b9a982de119156ac71c8733548f210bb.jpeg

November 4, 2025Article

Siapa sangka, obat yang awalnya dirancang \”hanya\” untuk menurunkan gula darah ternyata juga bisa memberikan perlindungan bagi jantung? Inilah cerita menakjubkan di balik golongan SGLT2 inhibito –pil yang semula dianggap revolusioner dalam menangani diabetes tipe 2, namun belakangan justru banyak digunakan oleh para dokter jantung. Bayangkan seperti menemukan \”bonus tersembunyi\” di dalam paket belanja: niatnya beli obat antidiabetes, tapi dapat pula manfaat ekstra untuk mencegah gagal jantung dan mengurangi risiko kematian kardiovaskular. Sebuah terobosan yang mengubah peta permainan di dunia medis dan menghadirkan angin segar bagi jutaan pasien!

Apa itu SGLT2 Inhibitor?

SGLT2 (Sodium-Glucose Cotransporter 2) adalah protein yang ada di ginjal, bertugas menyerap kembali glukosa dari urin ke dalam darah. Jika diibaratkan, dia seperti \”penjaga gerbang\” yang memastikan tidak ada gula yang terbuang sia-sia. Tetapi pada kondisi diabetes tipe 2, tubuh kita kebanyakan gula. Nah, SGLT2 inhibitor (misalnya dapagliflozin, empagliflozin, canagliflozin, dan ertugliflozin) bekerja menghambat si \”penjaga gerbang\” ini supaya sebagian gula \”dibuang\” lewat urin. Hasilnya? Kadar gula darah menurun, dan pasien diabetes bisa lebih terkontrol gula darahnya.

Sejak pertama kali diluncurkan, SGLT2 inhibitor sudah menjadi \”senjata baru\” dalam terapi diabetes, karena mekanismenya unik –mengurangi gula darah dengan cara \”buang gula\” lewat kencing. Jauh beda dari obat antidiabetes lama yang kebanyakan bekerja memengaruhi produksi insulin di pankreas atau sensitivitas tubuh terhadap insulin. Singkat cerita, SGLT2 inhibitor menawarkan pendekatan segar dalam tata laksana diabetes.

 

Kejutan di Dunia Medis: Manfaat Buat Jantung

Nah, kejutan muncul ketika para ilmuwan menemukan bahwa pasien diabetes yang memakai SGLT2 inhibitor ternyata memiliki risiko lebih rendah terkena gagal jantung dan komplikasi kardiovaskular. Lo, kok bisa? Rupanya, efek dari SGLT2 inhibitor tak berhenti pada penurunan gula darah saja. Efeknya yang bagus untuk jantung antara lain:

  1. Menurunkan Volume Cairan Berlebih

Dengan membuang gula, secara otomatis obat ini juga membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak cairan (karena gula menarik air). Ini berkontribusi pada pengurangan beban volume pada jantung dan pembuluh darah, sehingga membantu mengatasi kondisi seperti gagal jantung.

  1. Menurunkan Tekanan Darah

Efek diuretik ringan yang dimiliki SGLT2 inhibitor, plus penurunan beban sirkulasi, cenderung membuat tekanan darah ikut turun –ibarat membuang \”kelebihan muatan\” yang kerap memberatkan kinerja jantung.

  1. Perbaikan Metabolik

Selain mengendalikan gula darah, SGLT2 inhibitor juga berdampak positif pada berat badan dan profil lipid (lemak darah), walau tidak sedramatis obat penurun berat badan lain seperti GLP-1 agonis. Tetap saja, penurunan berat badan sedikit pun dapat membantu meringankan kerja jantung.

Penemuan ini seolah memberi \”dua manfaat dalam satu obat.\” Awalnya hanya untuk diabetes, eh ternyata menyelamatkan jantung juga. Ibarat Anda beli nasi padang, tiba-tiba dapat bonus teh es manis gratis –bahagia banget, kan?

Bukti Ilmiah di Balik Kehebatan SGLT2 Inhibitor

Tentu, kedokteran bukan soal \”katanya\” atau \”konon kabarnya.\” Para ahli butuh bukti dari uji klinis berskala besar. Beberapa penelitian penting yang mendukung penggunaan SGLT2 inhibitor untuk jantung, antara lain:

 

  1. EMPA-REG OUTCOME (2015)

Penelitian ini meneliti empagliflozin pada pasien diabetes tipe 2 dengan risiko kardiovaskular tinggi. Hasilnya? Empagliflozin secara signifikan menurunkan risiko kematian kardiovaskular dan hospitalisasi akibat gagal jantung. (Zinman B, dkk., 2015, New England Journal of Medicine)

  1. DAPA-HF (2019)

Studi ini khusus meneliti dapagliflozin pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi berkurang (HFrEF), baik yang diabetes maupun tidak. Hebatnya, dapagliflozin mampu menurunkan angka rawat inap gagal jantung dan kematian kardiovaskular. (McMurray JJV, dkk., 2019, New England Journal of Medicine)

  1. EMPEROR-Reduced (2020)

Masih dengan empagliflozin, studi ini menegaskan kembali manfaat yang sama pada pasien HFrEF, terlepas dari status diabetes mereka. (Packer M, dkk., 2020, New England Journal of Medicine)

Penelitian-penelitian inilah yang akhirnya memicu perubahan signifikan dalam pedoman (guideline) kardiologi. Dahulu, dokter jantung belum terpikir memasukkan SGLT2 inhibitor sebagai terapi utama gagal jantung. Sekarang, SGLT2 inhibitor malah menjadi \”pemain inti\” yang direkomendasikan oleh European Society of Cardiology (ESC) dan American Heart Association (AHA) untuk pasien HFrEF.

 

Pemanfaatan pada Berbagai Tipe Gagal Jantung

Tahukah Anda bahwa gagal jantung sendiri ada macam-macam tipenya? Yang paling umum dibicarakan adalah:

  1. Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi Berkurang (HFrEF)

Di sini, jantung sulit memompa darah dengan kuat (fraksi ejeksi <40%). Berkat uji klinis seperti DAPA-HF dan EMPEROR-Reduced, kini SGLT2 inhibitor telah resmi menjadi salah satu opsi terapi andalan.

  1. Gagal Jantung dengan Fraksi Ejeksi Terpertahankan (HFpEF)

Pada tipe ini (fraksi ejeksi >=50%), jantung masih cukup kuat berkontraksi, tetapi kaku (tidak elastis) saat relaksasi. Studi terbaru juga menyebutkan bahwa beberapa SGLT2 inhibitor bermanfaat dan member secercah harapan bagi pasien yang sebelumnya minim opsi pengobatan efektif.

Singkatnya, SGLT2 inhibitor tidak hanya untuk pasien diabetes. Bahkan, pasien gagal jantung tanpa diabetes pun bisa merasakan manfaatnya. Istilah gaulnya, \”all-in-one package!\”

 

Pertimbangan dan Efek Samping

Tentu, tidak ada obat yang \”sempurna.\” Beberapa efek samping SGLT2 inhibitor yang paling umum antara lain:

  1. Infeksi Saluran Kemih dan Genital

Karena banyak gula \”terbuang\” melalui urin, area saluran kemih menjadi lebih \”manis\”, sehingga lebih rentan infeksi jamur atau bakteri.

  1. Penurunan Tekanan Darah Berlebihan (Hipotensi)

Efek diuretik ringan bisa membuat tekanan darah turun drastis pada beberapa orang, terutama mereka yang sudah minum obat penurun tekanan darah lain.

  1. Euglycemic Diabetic Ketoacidosis (eDKA)

Ini kasus langka tapi serius: terjadi ketoasidosis (asam berlebih dalam darah) meski kadar gula darah tidak terlalu tinggi. Biasanya muncul pada pasien diabetes tipe 1 atau kondisi tertentu yang memicu dehidrasi.

Sebagai dokter, tentu kami harus menilai kondisi pasien secara menyeluruh –termasuk fungsi ginjal, tekanan darah, dan risiko infeksi– sebelum meresepkan SGLT2 inhibitor. Pasien juga perlu diedukasi tentang tanda-tanda infeksi saluran kemih dan anjuran minum air putih cukup.

 

Tips Bagi Pasien

  1. Konsultasi Terlebih Dahulu

Meski terdengar menggiurkan, SGLT2 inhibitor bukan \”obat sembarangan.\” Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter untuk penilaian kondisi jantung, gula darah, serta fungsi ginjal.

  1. Tetap Jaga Pola Hidup Sehat

Obat saja tidak cukup. Pola makan seimbang (rendah gula, rendah garam, dan kaya serat), aktivitas fisik teratur (sebisa mungkin, misalnya jalan kaki 30 menit), serta manajemen stres tetap menjadi \”pondasi\” kesehatan jantung dan metabolisme.

  1. Pemantauan Rutin

Jangan lupa cek tekanan darah, kadar gula darah, dan berat badan secara berkala. Kadang, dengan obat ini, penurunan berat badan bisa terjadi, yang tentu akan menguntungkan bagi pasien gagal jantung obesitas. Namun, pemantauan berkala penting untuk mendeteksi efek samping sejak dini.

Kesimpulan

Cerita tentang \”obat diabetes yang akhirnya jadi obat jantung\” adalah bukti bahwa ilmu kedokteran selalu berkembang. SGLT2 inhibitor sudah membuktikan diri tak hanya membantu menurunkan gula darah, tetapi juga menurunkan risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular –bahkan pada pasien tanpa diabetes. Ini ibarat superhero yang semula hanya bertarung di satu \”wilayah,\” tiba-tiba menyelamatkan beberapa \”kota\” sekaligus!

Meski begitu, perlu diingat bahwa setiap obat punya \”syarat dan ketentuan\” yang harus dipenuhi. Efek samping, kontraindikasi, dan biaya obat menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Karena itu, diskusikan selalu dengan dokter, dan jangan lupa jalani gaya hidup sehat. Ingatlah, kesehatan jantung Anda bukanlah sesuatu yang bisa dikompromikan.

Jadi, jangan kaget kalau suatu hari dokter Anda menyarankan obat \”buang gula\” –walaupun Anda bukan penderita diabetes! Itu artinya, sains dan teknologi sudah membuktikan, jantung Anda layak mendapatkan perlindungan terbaik.

(Dr. Erta Priadi Wirawijaya, FIHA. Departemen Informasi & Komunikasi PERKI)

 

Referensi

  1. Zinman B, Wanner C, Lachin JM, et al. (2015). Empagliflozin, Cardiovascular Outcomes, and Mortality in Type 2 Diabetes. New England Journal of Medicine, 373: 2117-2128.
  2. McMurray JJV, Solomon SD, Inzucchi SE, et al. (2019). Dapagliflozin in Patients with Heart Failure and Reduced Ejection Fraction. New England Journal of Medicine, 381: 1995-2008.
  3. Packer M, Anker SD, Butler J, et al. (2020). Cardiovascular and Renal Outcomes with Empagliflozin in Heart Failure. New England Journal of Medicine, 383: 1413-1424.
  4. American Heart Association. (2023). Heart Failure Treatment Guidelines. Diakses melalui www.heart.org.

 


78dd2d628eddbef1228373b168c7be34.jpeg

November 4, 2025Article

Ketika kita membahas penyakit jantung, mungkin pikiran langsung melayang ke kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, atau tekanan darah yang tak terkontrol. Namun, tahukah Anda bahwa ada satu elemen \”samar\” yang sering terabaikan, padahal diam-diam bekerja merusak sistem kardiovaskular kita? Yup, itulah peradangan kronis –musuh dalam selimut yang bisa mengacaukan jantung dan pembuluh darah secara perlahan tapi pasti. Bayangkan seperti api kecil di pojokan, dibiarkan menyala, lama-lama bisa membakar seluruh rumah!

Apa Itu Peradangan Kronis?

Peradangan kronis adalah respon imun yang berlangsung terus-menerus dalam tubuh. Di satu sisi, sistem imun memang dirancang untuk melawan infeksi dan memperbaiki kerusakan jaringan. Namun, jika peradangan ini tidak berhenti –misalnya karena gaya hidup tidak sehat, obesitas, atau stres berkepanjangan–  maka sistem imun akan terus \”menembakkan peluru\” ke jaringan sehat, termasuk dinding pembuluh darah.

Dalam kondisi normal, peradangan sesaat (akut) berguna untuk proses penyembuhan –seperti saat kita terantuk meja dan lutut memar, tubuh akan mengirim \”tim penyelamat\” untuk memperbaiki kerusakan. Tapi lain cerita jika peradangan ini berubah menjadi kronis: efeknya tidak lagi membantu, melainkan merusak sel-sel di tubuh, termasuk sel endotel di pembuluh darah kita.

Mengapa Peradangan Kronis Mengancam Jantung?

  1. Memicu Pembentukan Plak Aterosklerosis

Salah satu \”pemain utama\” dalam penyakit jantung koroner adalah plak aterosklerosis, yang terbentuk di dinding arteri. Prosesnya mirip adukan semen yang menempel di tembok, semakin lama semakin menebal. Peradangan kronis mempercepat pembentukan plak ini. Zat-zat kimia proinflamasi (seperti sitokin) akan memperburuk kerusakan endotel, membuat kolesterol jahat (LDL) lebih mudah menempel, dan meningkatkan migrasi sel otot polos ke area yang rusak. Akhirnya, pembuluh darah kian menyempit.

  1. Destabilisasi Plak

Tidak hanya membuat plak tumbuh lebih cepat, peradangan kronis juga bisa membuat plak lebih \”gampang pecah\” Ketika plak pecah, terbentuklah gumpalan darah (trombus) yang bisa menyumbat arteri koronaria dan menyebabkan serangan jantung. Ibarat balon yang terus ditiup hingga meletus –hasilnya bencana bagi jantung.

  1. Gangguan Fungsi Pembuluh Darah

Pembuluh darah sehat mampu melebar dan menyempit sesuai kebutuhan tubuh. Namun, jika peradangan telah merusak dinding pembuluh darah, kemampuannya untuk relaksasi menurun –muncullah kekakuan yang membuat tekanan darah cenderung naik. Peningkatan tekanan darah dalam jangka panjang membebani jantung, berkontribusi pada risiko gagal jantung.

  1. Merusak Keseimbangan Metabolik

Peradangan kronis berhubungan erat dengan resistensi insulin, obesitas, dan diabetes tipe 2. Kita tahu ketiga masalah tersebut adalah \”gerbang utama\” menuju gangguan jantung. Jadi, bisa dibilang, peradangan kronis ini adalah satu \”benang merah\” yang mengaitkan berbagai faktor risiko kardiometabolik.

Tanda-Tanda Peradangan Kronis

Memang tidak semudah memeriksa kadar kolesterol atau tekanan darah. Peradangan kronis sering tidak menimbulkan gejala spesifik. Namun, beberapa tanda berikut dapat menjadi \”lampu kuning\”:

  1. Nyeri sendi berkepanjangan tanpa sebab jelas.
  2. Kelelahan terus-menerus.
  3. Gangguan pencernaan berulang.
  4. Berat badan tidak stabil.
  5. Sering sakit kepala atau migrain.

Tentu, tanda-tanda ini tidak otomatis berarti Anda pasti mengalami peradangan kronis. Meski begitu, tetap penting memeriksakan diri jika keluhan berulang dan tak kunjung hilang.

Siapa yang Berisiko?

  1. Perokok

Zat kimia dalam rokok bukan hanya merusak paru-paru, tapi juga memicu reaksi peradangan pada dinding pembuluh darah. Ibarat \”asap beracun\” yang menyerang dari berbagai arah, kebiasaan merokok memperbesar risiko munculnya plak aterosklerosis di arteri.

  1. Penderita Obesitas

Jaringan lemak, terutama lemak visceral, aktif memproduksi sitokin proinflamasi (seperti TNF-a dan Interleukin-6) yang memperburuk peradangan sistemik. Tak heran jika obesitas kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.

  1. Pengidap Diabetes

Kadar gula darah tinggi pada penderita diabetes dapat merusak sel endotel (lapisan dalam pembuluh darah), memicu peningkatan mediator inflamasi. Semakin sulit kadar gula darah dikontrol, semakin tinggi pula peradangan yang terjadi.

  1. Orang dengan Stres Kronis

Hormon stres (kortisol) yang terproduksi terus-menerus dapat memengaruhi keseimbangan sistem imun, sehingga memicu peradangan yang berlangsung lama. Stres kronis juga sering mengarah pada kebiasaan tak sehat, seperti pola makan berlebihan atau merokok.

  1. Penderita Penyakit Autoimun

Penyakit autoimun seperti Lupus, Rheumatoid Arthritis (RA), dan Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah contoh situasi di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel-sel sehat. Proses ini menyebabkan peradangan kronis, yang pada gilirannya dapat memicu atau memperburuk kerusakan pembuluh darah. Beberapa studi menunjukkan bahwa penderita lupus atau RA memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner karena peradangan yang terus-menerus.

  1. Infeksi Kronis

Infeksi yang tidak teratasi dengan baik dapat berkembang menjadi peradangan jangka panjang. Misalnya, infeksi periodontal (radang gusi menahun) dapat melepaskan bakteri dan toksinnya ke dalam sirkulasi darah, menyebabkan peradangan sistemik. Kemudian, infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) di lambung, jika berlangsung kronis, juga bisa meningkatkan produksi mediator inflamasi. Di Indonesia, tuberkulosis (TBC) kronis pun masih menjadi tantangan besar; proses infeksi yang lama dapat menimbulkan peradangan berkepanjangan dan membebani tubuh secara keseluruhan, termasuk sistem kardiovaskular.

Mengendalikan Peradangan untuk Mencegah Penyakit Jantung

  1. Pola Makan Antiinflamasi

Makanan kaya antioksidan dan asam lemak sehat (seperti ikan berlemak, buah-buahan, sayuran berwarna-warni, serta kacang-kacangan) membantu meredakan peradangan. Batasi gula, garam, dan lemak trans yang menjadi \”bahan bakar\” bagi api peradangan.

  1. Olahraga Teratur

Aktivitas fisik moderat –contohnya jalan kaki 30 menit sehari, berenang, atau bersepeda–dapat menurunkan kadar penanda inflamasi dalam darah (misalnya CRP/ C-reactive protein). Meski demikian, hindari olahraga berlebihan yang justru dapat memicu stres fisik tambahan.

  1. Kontrol Stres

Stres kronis memicu lonjakan hormon kortisol yang bisa memicu peradangan. Teknik relaksasi, meditasi, yoga, atau sekadar meluangkan waktu untuk hobi dapat menormalkan kembali respons tubuh terhadap stres.

  1. Tidur Berkualitas

Kurang tidur mengganggu kerja sistem imun. Berusaha tidur 7-8 jam per malam membantu tubuh melakukan \”reparasi\” dan meminimalkan pelepasan sitokin proinflamasi.

  1. Berhenti Merokok

Selain merusak paru-paru, kebiasaan merokok juga memicu peradangan dan merusak dinding pembuluh darah. Berhenti merokok adalah salah satu cara paling efektif untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

  1. Penanganan Khusus untuk Penyakit Autoimun dan Infeksi Kronis

– Penyakit Autoimun: Konsultasikan ke dokter spesialis untuk terapi yang menekan aktivitas berlebih sistem imun (misalnya penggunaan obat antirematik pemodifikasi penyakit/DMARD, kortikosteroid, atau terapi biologis). Manajemen yang baik tak hanya meringankan gejala, tetapi juga menekan peradangan yang merugikan jantung.

– Infeksi Kronis: Pastikan infeksi periodontal ditangani oleh dokter gigi secara tuntas, dan infeksi TBC maupun H. pylori mendapatkan terapi sesuai pedoman. Mengatasi sumber infeksi dapat menurunkan beban peradangan sistemik secara signifikan.

  1. Konsultasi Medis dan Monitoring Rutin

Beberapa obat (seperti statin, aspirin dosis rendah, atau suplemen omega-3) dapat membantu mengontrol peradangan dan melindungi pembuluh darah. Namun, segala terapi harus berdasarkan konsultasi dokter, terutama bila Anda memiliki komorbid seperti penyakit autoimun atau infeksi kronis.

Mengapa Deteksi Dini itu Penting?

Gejala peradangan kronis seringkali \”minimal\” atau tampak tidak spesifik, padahal risikonya besar terhadap penyakit jantung. Pemeriksaan penanda inflamasi (seperti hs-CRP) bisa membantu menilai tingkat risiko kardiovaskular Anda. Jika terdeteksi lebih awal, langkah-langkah pencegahan –mulai dari perbaikan gaya hidup hingga terapi medis– bisa dilakukan secepatnya sebelum peradangan merusak dinding arteri.

Kesimpulan

Peradangan kronis kerap menjadi \”aktor figuran\” yang jarang disadari, namun ternyata berperan besar dalam memperburuk kondisi kardiovaskular. Bukan hanya faktor-faktor \”klasik\” seperti rokok, obesitas, diabetes, dan stres yang menyulut api peradangan ini, tetapi juga penyakit autoimun (lupus, RA, IBD) serta infeksi kronis (periodontal, H. pylori, TBC).

Kabar baiknya, peradangan kronis bisa dikelola. Penerapan gaya hidup sehat (diet antiinflamasi, olahraga moderat, tidur cukup, mengontrol stres, berhenti merokok) merupakan fondasi utama. Bagi penderita autoimun atau infeksi kronis, terapi tepat waktu dapat memadamkan sumber utama peradangan, sehingga mengurangi dampaknya pada jantung. Selalu ingat, upaya pencegahan jauh lebih sederhana dan murah dibanding mengobati komplikasi penyakit jantung yang sudah terlanjur parah. Berikan jantung Anda kesempatan terbaik untuk tetap sehat, dimulai dari mengatasi \”api dalam sekam\” bernama peradangan kronis.

(Dr. Erta Priadi Wirawijaya, FIHA. Departemen Informasi & Komunikasi PERKI)

 

Referensi

  1. Ridker PM. (2019). Inflammation, Atherosclerosis, and Cardiovascular Risk: An Epidemiologic View. Blood Coagulation & Fibrinolysis, 30(3): 237-241.
  2. Hansson GK. (2005). Inflammation, Atherosclerosis, and Coronary Artery Disease. New England Journal of Medicine, 352: 1685-1695.
  3. Ronderos D, Jiandani N, DeVerna J, Silver RM. (2021). Cardiovascular Manifestations of Autoimmune Disease. Current Cardiology Reports, 23(6): 56.
  4. World Health Organization (WHO). (2023). Global Tuberculosis Report.
  5. American Heart Association. (2023). Inflammation and Heart Disease. Diakses melalui www.heart.org.

 


6b739275cef787395fc79e577a75224f.jpeg

November 4, 2025Article

Ya. Fakta! Polusi udara berkontribusi terhadap jutaan kematian akibat penyakit kardiovaskular (CVD) setiap tahun. Paparan polutan seperti PM2.5, PM10, NO2, O3, dan CO diketahui meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan aritmia. PM2.5 dapat masuk ke dalam aliran darah, memicu peradangan sistemik, stres oksidatif, dan disfungsi endotel yang menjadi cikal bakal aterosklerosis. Partikel ultrahalus (UFPs) yang lebih kecil dari PM2.5 juga dapat menyebabkan kerusakan kardiovaskular yang lebih parah. Paparan jangka panjang dari polusi udara dapat mempercepat aterosklerosis, meningkatkan kalsifikasi arteri koroner, dan membuat plak menjadi tidak stabil. Paparan ini menimbulkan risiko yang lebih tinggi terutama pada populasi rentan seperti anak-anak,  lansia, Wanita hamil, penderita CVD, diabetes, atau obesitas.

Mekanisme Kerusakan Kardiovaskular

  • Polutan  mengaktifkan respons peradangan paru-paru, melepaskan sitokin  pro-inflamasi dan spesies oksigen reaktif (ROS).
  • Menyebabkan  vasokonstriksi, trombosis, gangguan stabilitas plak, serta meningkatkan  risiko aritmia.
  • Polusi udara  juga berdampak pada sistem saraf otonom dan modifikasi epigenetik.

Intervensi untuk Mengurangi Risiko

  • Kebijakan:  Standar kualitas udara yang lebih ketat, penggunaan energi bersih, dan  pengurangan emisi kendaraan.
  • Individu:  Memantau indeks kualitas udara (AQI), mengurangi aktivitas luar saat  polusi tinggi, serta menggunakan masker N95 dan pembersih udara.

Peran Tenaga Kesehatan dan Riset Masa Depan

  • Edukasi  masyarakat tentang risiko polusi udara terhadap kesehatan jantung.
  • Advokasi  kebijakan untuk meningkatkan kualitas udara.
  • Penelitian  lebih lanjut untuk memahami mekanisme dan terapi yang dapat mengurangi  dampak polusi udara terhadap CVD.

Kesimpulan

  • Polusi udara  adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk CVD.
  • Upaya  kolaboratif antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat sangat  penting untuk melindungi kesehatan jantung secara global.

 

(dr. Abdul Halim Raynaldo,Sp.JP(K),POKJA Prevensi Rehabilitasi Kardiovaskular)

Referensi:

  1. Sagheer U, Al-Kindi S, Abohashem S, Phillips CT, Rana JS, Bhatnagar A, Gulati M, Rajagopalan S, Kalra DK. Environmental pollution and cardiovascular disease: Part 1 of 2: Air Pollution. JACC: Advances. 2024 Feb 1;3(2):100805.
  2. Rajagopalan, S., et al. (2018). \”Air Pollution and Cardiovascular Disease: JACC State-of-the-Art Review.\” Journal of the American College of Cardiology (JACC)*, 72(17), 2054-2070. DOI: [10.1016/j.jacc.2018.07.099].
  3. Newby, D. E., et al. (2015) \”Expert position paper on air pollution and cardiovascular disease.\” Journal of the American College of Cardiology (JACC), 65(21), 2279-2295.  DOI: [10.1016/j.jacc.2015.03.038]

303a924d000a1c59cbe1893c9ca0d68f-1200x727.jpg

November 4, 2025Article

Kalau bicara soal penyebab kematian perempuan, banyak yang langsung mikirnya: kanker. Atau kalau yang agak lebay –\”mati karena patah hati, dok!\” Tapi faktanya? Bukan. Pembunuh nomor satu perempuan di dunia adalah penyakit jantung. Iya, serius. Bukan kanker, bukan mantan, tapi jantung.

Secara global, lebih dari 8 juta perempuan meninggal tiap tahun karena penyakit ini. Di Indonesia? Nggak kalah menyeramkan. Banyak banget pasien perempuan yang datang konsultasi dengan kondisi jantungnya sudah rusak parah—dan parahnya lagi, sering telat ketahuan.

Kenapa bisa begitu? Karena gejala penyakit jantung pada perempuan itu sering nggak khas, nggak dramatis kayak sinetron. Kalau laki-laki kena serangan jantung biasanya dadanya nyeri banget, menjalar ke lengan kiri, terus langsung drama di IG story. Tapi kalau perempuan? Gejalanya bisa cuma lelah, pusing, mual, nyeri perut, atau sesak yang dikira \”cuma kecapekan karena begadang abis bantuin ngurus Ospek anak\”.

Sayangnya, bukan cuma pasiennya yang nggak ngeh. Tenaga medis juga kadang kecolongan. Perempuan datang dengan keluhan nyeri ulu hati, keringat bercucuran membasahi baju, seperti abis maraton 30 km, pas ke dokter, tanpa diperiksa EKG dokternya bilang, \”Lambung kali ya, makan apa tadi pagi?\” Padahal jantungnya sudah minta tolong dari seminggu yang lalu.

Belum lagi faktor hormonal. Sebelum menopause, hormon estrogen itu ibarat bodyguard-nya jantung. Tapi begitu masuk masa menopause, hormon itu ‘pensiun’, dan risiko penyakit jantung langsung melambung kayak harga cabai pas Lebaran.

Lalu gaya hidup? Waduh. Jangan ditanya. Banyak yang makanannya boba, gorengan, dan nasi uduk, tapi olahraganya jalan dari ruang tamu ke kulkas. Belum lagi sekarang, lagi senam jari scrolling TikTok, eh lihat konten makanan martabak Uenak, langsung pesan gojek. Tidurnya mepet, stresnya mepet, kolesterolnya longgar. Kombinasi maut.

Yang bikin miris, banyak perempuan yang sudah punya faktor risiko –hipertensi, diabetes, kolesterol, stres rumah tangga level Jalan-jalan ke Dufan disiang hari– tapi jarang yang rutin periksa jantung. Karena mindset-nya masih \”Ah saya baik-baik saja kok, cuma masuk angin doang ini mah.\”

Masuk angin kok sampai EKG-nya berantakan.

Sering saya temui pasien perempuan datang ke IGD dengan gejala ringan, padahal jantungnya sudah sekarat. Dan ketika sudah telanjur rusak, pemulihannya itu tidak mudah. Bukan cuma nyawa yang terancam, tapi kualitas hidupnya juga turun drastis.

Jadi buat kalian para perempuan, kalau udah mulai muncul gejala seperti lemas terus-terusan, napas pendek, nyeri ulu hati, atau gampang capek… jangan abaikan! Jangan bilang, \”Ah saya kan masih muda.\” Serangan jantung itu bukan lihat umur, tapi lihat gaya hidup dan faktor risiko. Mau usianya masih 30-an, tapi kalau tiap hari makan gorengan sambil marah-marah ke suami, tetap aja bisa kena.

Dan tolong, kalau ada gejala mencurigakan, jangan ditahan karena mikir cucian belum dilipet atau anak belum makan. Cucian bisa nunggu. Tapi jantung yang kolaps? Nggak akan nunggu.

Jadi mulai sekarang, ayo kalian lebih perhatian sama jantung sendiri. Jangan cuma perhatiin skincare dan serum glowing. Karena apa gunanya wajah glowing kalau jantungnya gelap?

Kalau kalian butuh pemeriksaan atau pengen tahu lebih lanjut soal kesehatan jantung perempuan, Silahkan hubungi Dokter Jantung kalian, untuk ngobrol, edukasi, dan tentu saja… periksa jantung, bukan periksa mantan.*

 

(Dr. Erta Priadi Wirawijaya, FIHA)


c85edfb12f026c699949b4dc03253a70.jpg

November 4, 2025Article

Halo, dengan dr. Erta disini. Hari ini saya ingin berbagi kisah nyata… yang seperti cerita misteri. Bukan misteri pembunuhan, tapi misteri kenapa jantung seseorang bisa rusak berat –tanpa orangnya merasa ada yang salah.

Pasien saya ini, usianya baru 30-an. Masih muda, masih kuat makan tiga piring nasi uduk plus ayam goreng 3, plus tahu tempe dan telor dadar. Awalnya beliau dirawat di oleh sejawat dokter spesialis penyakit dalam karena demam, kemungkinan ada infeksi. Tapi kemudian, dokter penanggung jawab mengkonsultasikan pasien tersebut karena temuan EKG abnormal dan jantung bengkak pada ronsen dada.

Hasil EKG-nya –menunjukkan tanda yang tidak biasa. Ada gelombang Q patologis dari V1 sampai V4. Buat yang belum tahu: itu tanda bahwa jantung pernah mengalami kerusakan akibat serangan jantung. Infark miokard lama. Tapi anehnya, pasien ini nggak pernah merasakan pernah mengalaminya.

Dokter IPD-nya bilang, \”Dok, ini ada kardiomegali (jantung membesar) di ronsen dada, EKG nya seperti OMI (infark miokard lama), tapi katanya ngga ada gejala. Tolong di evaluasi apa ada kelainan jantung?\”

Jadi pasiennya langsung saya periksa. Tanya. Gali. Di Investigasi seperti detektif.

\”Pak, apa pernah sesak nafas?\”

\”Nggak, dok.\”

\”Kalau naik tangga 1 lantai apa kuat?\”

\”Ngga pernah dicoba dok, saya memilih naik lift saja\”

\”Kalau jalan jauh gimana? Apa ada kendala kalau jalan 1 km?\”

\”Kalau sejauh itu saya memilih naik motor saja dok\”

Ternyata, si Bapak ini memang nggak pernah aktivitas berat. Rumahnya satu lantai. Nggak pernah naik tangga. Di kantor naik lift. Kalau agak jauh naik motor Jadi wajar saja kalau nggak pernah merasa sesak –karena jantungnya memang nggak pernah ditantang untuk kerja keras. Hal ini sering terjadi pada pasien lansia, ada masalah jantung, tapi tidak ada keluhan karena memang aktivitas fisiknya sehari hari tidak banyak.

Terus saya tanya, \”Pernah nyeri dada?\”

\”Enggak, dok.\”

Tapi saya nggak berhenti di situ. Saya lanjutkan lagi interogasinya.

\”Apa punggungnya pernah sakit?\”

\”Oh iya, sering. Tapi dikerok istri juga sembuh.\”

\”Apa pernah mendadak keringatan sampai baju nya basah kuyup?\”

\”Pernah dok, cukup sering itu. Saya pikir cuma masuk angin saja.\”

Nah. Di sinilah petunjuk penting muncul. Ini bukan masuk angin biasa. Ini gejala serangan jantung yang tidak khas. Dan ini bisa terjadi –terutama pada empat kelompok: diabetesi, lansia, perempuan, dan… obesitas. Dan pasien saya ini? Berat badannya 120 kilogram, tingginya 160 cm. Indeks masa tubuhnya sekitar 46.8. Itu bukan gemuk biasa, itu obesitas morbid. Berat badan idealnya harusnya di kisaran 50-65 kg. Jadi dia kelebihan berat hampir satu orang dewasa.

Saya korek lagi lebih dalam.

\”Kalau pagi suka pusing nggak?\”

\”Iya, sering.\”

\”Kalau siang bawaannya ngantuk terus?\”

\”Iya, itu saya banget.\”

Kecurigaan saya makin kuat: ada obstructive sleep apnea. Gangguan tidur di mana saluran napas menutup saat tidur karena timbunan lemak di leher dan perut. Akibatnya oksigen tidak bisa masuk ke paru-paru sehingga Jantung harus kerja keras sepanjang malam karena saturasi oksigen naik turun kayak roller coaster.

Belum selesai, saya tanya:

\”Pak, giginya ada yang bolong?\”

\”Ada beberapa dok. Udah lama, tapi ngga sakit kok dok.\”

Tanda tanya besar berubah jadi tanda seru. Obesitas, sleep apnea, peradangan kronis dari gigi yang rusak, dan… satu hal terakhir.

\”Bapak merokok?\”

\”Iya.\”

BOOM.

Lengkap sudah jawaban kenapa jantungnya bermasalah. Obesitas. Gigi berlubang. Kualitas Tidur buruk karena Sleep Apnea. Aktivitas minim. Merokok. Sangat mungkin jantungnya bermasalah walau usianya masih muda.

Saya lanjutkan pemeriksaan jantung pakai echocardiography. Dan benar saja: jantungnya membesar, fraksi ejeksi hanya 25%. Padahal normal itu sekitar 55-70%. Artinya, jantungnya sekarang cuma bekerja setengah dari kapasitas normal. Bayangkan mobil yang harus naik tanjakan tapi mesinnya cuma nyala satu silinder.

Pasien ini tak pernah sadar dia punya masalah jantung. Tapi itu bukan karena jantungnya baik-baik saja. Itu karena dia nggak pernah kasih kesempatan jantungnya buat menunjukkan kelemahan. Aktivitasnya minim. Tantangannya kecil. Tapi… ancamannya? Sangat berbahaya. Pernah lihat mobil yang kelebihan beban naik disebuah tanjakan? Kalau ngga kuat bisa-bisa mobilnya mendadak mundur, atau bahkan mogok. Seperti itulah kurang lebihnya kondisi jantung bapak ini.

Saya sampaikan dengan serius, tapi juga hati-hati:

\”Pak mohon maaf, ini jantungnya nggak baik-baik saja. Fungsi jantung nya sudah terganggu, sudah lemah. Perlu dibantu dengan obat dan perubahan gaya hidup. Bapak harus jaga pola makan, harus diet. Dan perlahan berat badan nya harus turus. Target bisa turun 60 kg ya. Pelan pelan. Nanti akan dibantu oleh tim ahli gizi kami soal makanan. Bapak juga harus berhenti merokok ya. Demi jantung nya pak.\”

Dan kalian tahu, cerita seperti ini bukan sekali dua kali saya temui. Kadang keluhan yang dianggap sepele seperti punggung pegal, sering keringatan, pusing di pagi hari, ternyata adalah kode rahasia dari tubuh yang sedang sekarat perlahan.

Jadi jangan tunggu jantungnya teriak dulu. Karena kalau dia sudah teriak… kadang kita sudah terlambat menolongnya.

Kalaukalian merasa punya faktor risiko –entah berat badan berlebih, suka ngorok,gigi bolong bertahun-tahun, atau punya gaya hidup mirip patung –jangan tunggu gejalanya datang. Periksa jantung kalian. Hari ini. Bukan besok. Bukan nanti.

Dr.Erta Priadi Wirawijaya, FIHA)

 


045b0f88dfaa55ae37522a52ef7d2667-1200x727.jpg

November 4, 2025Article

Halo semuanya, saya dr. Erta, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah.

Kali ini kita akan membahas topik\r\nyang sering dianggap sepele padahal dampaknya bisa sangat serius ‘ngorok’.Banyak dari kita mungkin menganggap ngorok itu hal yang biasa. \”Ah, cuma suara\r\ntidur aja, dok.\” Tapi tunggu dulu. Tidak semua ngorok itu wajar. Ada jenis ngorok yang bisa menjadi pertanda gangguan tidur serius yang disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA), yang jika\r\ndibiarkan bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, stroke, hingga\r\nserangan jantung.

OSA adalah kondisi di mana saluran napas bagian atas menyempit atau menutup berulang kali saat tidur, sehingga pernapasan berhenti selama beberapa detik –bahkan bisa lebih dari satu menit– sebelum akhirnya otak \”membangunkan\” tubuh untuk bernapas lagi. Masalahnya, kejadian ini bisa terjadi puluhan hingga ratusan kali setiap malam tanpa disadari oleh penderitanya. Yang sering sadar justru pasangannya, karena harus mendengarkan suara ngorok keras yang tiba-tiba berhenti, lalu terdengar seperti tersedak, baru lanjut ngorok lagi.

Lalu bagaimana cara membedakan mana ngorok yang masih tergolong \”biasa\” dan mana yang perlu segera diperiksa lebih lanjut? Untungnya, ada sistem sederhana yang bisa digunakan sebagai alat skrining awal, yaitu skor STOP-BANG. ni adalah akronim dari delapan pertanyaan sederhana yang bisa Anda jawab sendiri di rumah:

1. S (Snoring): Apakah Anda sering ngorok dengan suara keras?

2. T (Tired): Apakah Anda sering merasa mengantuk di siang hari, atau kelelahan meskipun merasa tidur cukup lama?

3. O (Observed): Apakah ada orang yang pernah melihat Anda berhenti bernapas saat tidur?

4. P (Pressure): Apakah Anda memiliki tekanan darah tinggi atau sedang dalam pengobatan hipertensi?

5. B (BMI): Apakah indeks massa tubuh Anda lebih dari 35?

6. A (Age): Apakah usia Anda lebih dari 50 tahun?

7. N (Neck): Apakah lingkar leher Anda lebih dari 40 cm? (ukur dibagian tengah leher, bukan di bawah dagu)

8. G (Gender): Apakah Anda laki-laki?

Jika Anda menjawab \”ya\” pada tiga atau lebih dari delapan poin di atas, maka Anda berisiko tinggi mengalami OSA dan sebaiknya segera konsultasi ke dokter atau melakukan pemeriksaan lanjutan seperti sleep study.

Bagaimana kita bisa mengenali pasangan kita berhenti napas saat tidur?

Biasanya, tanda paling mudah dikenali adalah saat ngoroknya tiba-tiba berhenti –hening selama beberapa detik– lalu disusul dengan suara seperti tercekik, mendengus keras, atau menarik napas panjang secara mendadak. Ini bisa terjadi berulang kali sepanjang malam. Pasangan yang tidur di sebelah sering kali menjadi saksi pertama dari pola ini. Jika Anda mendengar jeda napas yang berlangsung lebih dari 10 detik secara berulang, apalagi diikuti gelisah, keringat dingin, atau mengorok keras kembali setelah hening, itu tanda kuat bahwa orang tersebut mungkin mengalami sleep apnea dan sebaiknya diperiksa lebih lanjut.

Kenapa ini penting?

Karena OSA tidak hanya membuat tidur tidak nyenyak, tapi juga menyebabkan penurunan oksigen dalam darah secara berulang. Ini memberi beban besar pada jantung, bisa memicu gangguan irama jantung, memperburuk hipertensi, hingga meningkatkan risiko serangan jantung mendadak saat tidur. Saya beberapa kali menangani pasien jantung yang awalnya datang hanya dengan keluhan gampang lelah dan tekanan darah tinggi yang sulit dikontrol. Setelah ditelusuri, ternyata penyebab utamanya adalah OSA yang tidak pernah terdeteksi.

Jadi, kalau Anda sering ngorok keras, merasa capek meski sudah tidur 8 jam, atau pasangan Anda bilang Anda \”berhenti napas\” saat tidur, jangan abaikan. Gunakan skor STOP-BANG sebagai panduan awal. Karena semakin cepat OSA dikenali, semakin cepat pula penanganan yang bisa dilakukan–baik dengan perubahan gaya hidup, penggunaan alat bantu napas seperti CPAP, atau tindakan medis lainnya.

Dan satu hal lagi: jangan anggap ngorok itu cuma soal suara. Kadang suara itu adalah peringatan dari tubuh bahwa ada bahaya yang sedang mengintai diam-diam. Yuk, mulai lebih peduli dengan kualitas tidur kita. Karena tidur yang sehat, adalah pondasi jantung yang kuat. Bagikan tulisan ini pada orang terdekat Anda –terutama yang hobi ngorok– siapa tahu Anda sedang menyelamatkan nyawa mereka.

 

(dr.Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP, Kardiolog)

 


20251104-113156.jpeg

November 4, 2025Article
Mungkin banyak, di antara pasien jantung yang saat konsultasi ke dokter disarankan untuk mendapatkan vaksinasi influenza. Kalau dipikir-pikir, flu kan tampaknya penyakit ringan, masa iya pasien jantung harus repot-repot vaksin juga? Nah ternyata, ada alasan ilmiah yang kuat di balik rekomendasi ini.

Manfaat Vaksinasi Influenza bagi Pasien Jantung

Sejumlah penelitian besar telah menemukan bahwa vaksinasi influenza sangat bermanfaat bagi pasien dengan penyakit jantung. Salah satu studi meta-analisis yang dipublikasikan oleh Udell dkk. pada 2013 menunjukkan bahwa vaksinasi influenza mengurangi risiko kejadian kardiovaskular utama hingga 36% pada pasien yang memiliki penyakit jantung koroner. Hasil ini terutama terasa pada pasien yang baru saja mengalami serangan jantung, dimana vaksinasi bisa menurunkan risiko kejadian kardiovaskular sampai 45% dalam setahun pertama setelah vaksinasi.
Selain itu, penelitian oleh Phrommintikul et al. pada tahun 2011 juga mengungkap bahwa vaksinasi influenza berperan dalam mengurangi kematian akibat penyakit kardiovaskular pada pasien dengan sindrom koroner akut. Dalam 12 bulan pertama setelah vaksinasi, risiko kematian akibat serangan jantung turun hingga baru-baru ini,studi observasional di Inggris pada tahun 2023 melaporkan bahwa risiko kejadian kardiovaskular akut pertama menurun dalam 28 hari setelah vaksinasi influenza dan tetap lebih rendah hingga 120 hari.
Ini menunjukkan bahwa vaksinasi bisa menjadi perlindungan yang signifikan terhadap kejadian jantung\r\npada pasien dengan dan tanpa risiko kardiovaskular tinggi (Davidson et al., 2023).

ab7a9c5c725b73a5fd77f1ece9b43ffd.jpg

October 10, 2025Article

Perempuan adalah sumber kehidupan, dan kehamilan adalah bukti kekuatannya.

Di dalam setiap detak jantung ibu, ada cinta yang tumbuh, harapan yang berdenyut, dan kehidupan yang menanti dunia. Namun, kehamilan juga membawa perubahan besar bagi tubuh, termasuk pada jantung. Menjaga kesehatan jantung selama kehamilan bukan hanya tentang ibu, tapi juga tentang kehidupan yang sedang ia bawa.

Cek kesehatan jantung, karena setiap ibu berhak menjalani kehamilan dengan aman dan sehat.

#InternationalWomen’sDay2025 💖


4d1d4a8fb4205090151d377ee28ad9fa.jpg

October 10, 2025Article

Dyslipidemia atau kadar kolesterol yang tinggi merupakan ancaman kesehatan yang seringnya terlewatkan karena tidak menunjukkan gejala yang khas.

Jika tidak ditangani dengan baik, Dyslipidemia turut meningkatkan resiko penyakit jantung Atherosklerosis, sama seperti merokok dan tekanan darah tinggi.

Mari mengenal lebih dalam tentang Dyslipidemia!!
“Know Your Level, Know Your Target “


e16e4ae3a0f72fbd042a4672b2ae2a23-1200x1600.jpg

October 10, 2025Article