Education for Patient

BAHAYA ROKOK ELEKTRIK PADA KESEHATAN

PERKI BAHAYA ROKOK ELEKTRIK PADA KESEHATAN

Merokok merupakan masalah kesehatan sejak lama di Indonesia. Menurut riskesdas 2013, terdapat peningkatan presentase perokok aktif di Indonesia >15 tahun dari 34,4% pada tahun 1995 menjadi 36,3%pada tahun 2013 (Riskesdas 2013). Sedangkan GSHS (Global School-based Student Heart Survey) 2016, menyatakan anak remaja  yang merokok di Indonesia mencapai angka 13% dari total populasi dan 2% diantaranya adalah anak perempuan (GSHS, 2016).

Berbagai upaya dilakukan untuk mengurangi bahaya rokok, maupun mencari alternatif dari rokok. Kemudian pada tahun 2006, rokok elektrik mulai muncul di pasaran dan dipopulerkan sebagai alternatif rokok yang lebih “sehat” (Korfei, 2018), bahkan juga dipopulerkan untuk membantu perokok aktif yang kesulitan dalam berhenti merokok secara keseluruhan untuk menurunkan konsumsi rokok tembakau mereka (Grana et al., 2014).

Kenyataannya, Banyak remaja, bahkan yang sebelumnya tidak pernah merokok, mencoba mengisap rokok elektrik atau e-cigarettes. Berdasarkan survey dari BMC public health kepada 16.193 remaja berumur 14 sampai 17 tahun, menunjukkan satu dari lima orang mencoba atau membeli rokok elektrik (www.bbc.com). Walaupun belum ada bukti penelitian yang menunjukkan keamanan penggunakan rokok elektrik ini, penggunaan rokok elektrik terus meningkat (Zhang et al., 2018). 

Rokok elektrik merupakan suatu alat yang berfungsi seperti rokok, namun tidak menggunakan ataupun membakar daun tembakau, melainkan mengubah cairan menjadi uap yang dihisap oleh perokok kedalam paru-parunya, rokok elektrik umumnya mengandung nikotin, zat kimia lain, serta perasa dan bersifat toksik. Rokok elektronik juga dikenal dengan sebutan: vapor, vape, e-cigaro, electrosmoke, green-cig, smart smoke, dan smart cigarette (p2ptm.kemenkes.go.id).

Komponen zat kimia yang ada slam rokok elektrik antara lain: glycol, glycerol, nikotin (dapat ada maupun tidak), dan esens. Terdapat 51 jenis cairan rokok elektrik, namun pelarut yang hampir selalu ada adalah 1,2-propylene glycol dan glycerol, dengan konsentrasi 75%-95% (Han et al., 2014).

Walaupun zat ini dikatakan aman untuk penggunaan secara oral, namun propilen glikol akan dikonversikan menjadi propilen oksida selama inhalasi aerosol pada rokok elektrik, dan propilen oksida diklasifikasikan menjadi karsinogen kelas 2B oleh International Agency for Cancer Research. Selain itu, gliserol akan dikonversikan menjadi acrolein, yang dapat menstimulasi saluran nafas atas, stimulasi jangka panjang menyebabkan hambatan saluran nafas , dan meningkatkan radikal bebas pada paru secara signifikan, ditandai dengan meningkatnya 8-hydroxy-2-deoxyguanosine pada paru. 8-hydroxy-2-deoxyguanosine merupakan biomarker untuk terjadinya stres oksidatif dan karsinogenisitas (Canisto et al., 2017).

Komponen berbahaya lain yang terdapat pada rokok elektrik antara lain: karbonil, komponen yang mudah menguap, nitrosamin spesifik tembakau, dan logam berat. Esens, nikotin, dan partikel aerosol yang terbentuk dari rokok elektrik juga berbahaya bagi kesehatan (Goniewicz et al., 2014). Komponen karbonil akibat pemanasan gliserol, akan menghasilkan senyawa aldehida, termasuk formaldehida, asetaldehida, dan acrolein. Formaldehida diklasifikasikan sebagai karsinogen kelas 1 pada tahun 2006. Sedangkan Acrolein menstimulasi rongga hidung, merusak paru-paru, dan dinding dalam pembuluh darah (endotel), inhalasi jangka panjang acrolein menghambat peredaran EPC (sel progenitor endotel), sehingga menyebabkan aterosklerosis, dan mempercepat pengerasan aorta 1,6 kali lipat (Conklin et al., 2015). Nitrosamin juga merupakan karsinogen, dapat berinteraksi dengan DNA dan menyebabkan mutasi, kerusakan spindel saat mitosis (pembelahan sel) (Canistro et al., 2017).

Penelitian oleh William dkk menunjukkan adanya senyawa logam berat pada rokok elektrik, seperti: timah, timbal, cromium, dan nanopatikel lain, yang jika dihirup akan menyebabkan kerusakan alveoli, batuk, sesak nafas, edema paru, gagal nafas akut, karsinogenisitas, nefrotoksisitas, dan neurotoksisitas (William et al., 2013; Goniewicz et al., 2014).

Rokok elektrik juga berbahaya bagi kesehatan jantung, walaupun masih membutuhkan banyak penelitian lebih lanjut mengenai bahaya subakut dan jangka panjang dari rokok elektrik terhadap penyakit jantung, penelitian menggunakan hewan coba tikus menunjukkan bahwa bahkan dengan paparan jangka pendek rokok elektrik, dapat menimbulkan fibrosis pada jantung dan ginjal (Huilin et al., 2019).

Pada studi populasi penggunaan e Cigarette secara intermitten atau setiap hari meningkatkan risiko kejadiaan serangan jantung. Efek e cigarette terhadap sistim kardiovaskular sama pada pengguna rokok konvensiona. Pada penggunaan keduanya konvensional dan e-cigarette risiko kejadian infark miokard akan lebih meningkat (Dharma N Bhatta  J Am Heart Assoc. 2019;8:e012317. DOI: 10.1161/JAHA.119.012317)

Perokok pasif pada rokok elektrik menghirup udara ekshalasi dari perokok aktif. Penelitian menunjukkan partikel aerosol yang dikeluarkan pada perokok elektrik akan dipecah menjadi partikel yang lebih kecil di paru-paru, kemudian dihembuskan dan dihirup oleh perokok pasif. Hasil analisa udara hembusan perokok elektrik aktif menunjukkan adanya kandungan isoprene, fromaldehida, acrolein, isoprene, asetaldehida, asam asetat, namun senyawa kimia yang dihasilkan oleh pembakaran rokok tradisional 5-40 kali lipat lebih besar dampaknya pada perokok pasif, dibandingkan dengan penggunaan rokok elektrik.

Hasil hembusan aerosol dari perokok elektrik aktif juga dapat menyebabkan peumpukan pada jendela, tembok, lantai, kayu, dan permukaan logam, sehingga penggunaan rokok elektrik menyebabkan orang lain terpajan juga terhadap bahaya nikotin secara tidak langsung, namun masih membutuhkan penelitian lanjutan mengenai efek karsinogenisitas pada perokok pasif rokok elektonik (Goniewicz et al., 201; Zhang et al., 2018).

 

REFERENSI:

Grana RA, Popova L, Ling PM. A longitudinal analysis of electronic cigarette use and smoking cessation. JAMA Intern Med. 2014;174:812–3

Han S., Chen H., Liu T., Hou H., Hu Q. Simultaneous Determination of Main Chemical Components in E-liquid by gas chromatography. J. Anhui Agric. Sci. 2014;42:8344–8347.

Canistro D., Vivarelli F., Cirillo S., Marquillas C.B., Buschini A., Lazzaretti M., Machi L., Cardenia V., Rodriguez-Estrada M.T., Lodovici M., et al. E-cigarettes induce toxicological effects that can raise the cancer risk. Sci. Rep. 2017;7:2028. doi: 10.1038/s41598-017-02317-8.

Goniewicz M.L., Knysak J., Gawron M., Kosmider L., Sobczak A., Kurek J., Prokopowicz A., Jablonska-Czapla M., Rosik-Dulewska C., Havel C., et al. Levels of selected carcinogens and toxicants in vapour from electronic cigarettes. Tob. Control. 2014;23:133–139. doi: 10.1136/tobaccocontrol-2012-050859.

Conklin D.J., Agarwal A., Sithu S., Zeller I., Haberzettl P., O’toole T.E., Bhatnagar A., Srivastava S. Abstract15705: Chronic Inhaled Acrolein Depresses Circulating Endothelial Progenitor Cells and Promotes Atherosclerosis. Circulation. 2015;132:A15705.

Williams M., Villarreal A., Bozhilov K., Lin S., Talbot P. Metal and silicate particles including nanoparticles are present in electronic cigarette cartomizer fluid and aerosol. PLoS ONE. 2013;8:e57987. doi: 10.1371/journal.pone.0057987.

Goniewicz M.L., Lee L. Electronic cigarettes are a source of thirdhand exposure to nicotine. Nicotine Tob. Res. 2015;17:256–258. doi: 10.1093/ntr/ntu152.

Zhang, Guangwei,  Zhangli Wang,  Kai Zhang, Rui Hou, Chunli Xing, Qi Yu, Enqi Liu. 2018. Safety Assessment of Electronic Cigarettes and Their Relationship with Cardiovascular Disease. Int J Environ Res Public Health; 15(1): 75. doi: 10.3390/ijerph15010075

Korfei, Martina. 2018. The underestimated danger of E-cigarettes - also in the absence of nicotine. Respiratory Research (2018) 19:159.

Huilin Shi, Xiaoming Fan, Austin HortonSteven T. HallerDavid J. KennedyIsaac T. Schiefer,Lance DworkinChristopher J. Cooper,  Jiang Tian. 2019. The Effect of Electronic-Cigarette Vaping on Cardiac Function and Angiogenesis in Mice. Sci Rep. 2019; 9: 4085. doi: 10.1038/s41598-019-40847-5

Catatan : gambar diambil dari google.

 

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA 

(PERKI)